Tekapan Lontar Warisan Budaya Sasak
Potret bersama informan bapak mujahidun nafis dan pak parman.
Assalamualaikum semua, pada kesempatan kali ini penulis mau bercerita atau bisa di bilang memberi informasi mungkin juga ya tentang naskah kuno. Kalau penggiat budaya atau orang-oranng yang kepo dengan informasi atau sejarah masa lampau pasti senang sekali ya hehehe. Tapi sebelum masuk keceritanya penulis mau memberi informasi duluni kenapa sih naskan kuno itu penting untuk diketahui ? Jadi Naskah kuno menjadi salah satu bukti peninggalah sejarah, tidak hanya sekedar bukti melaikan banyak informasi, budaya serta nilai yang terkandung didalamnya. Tidak sedikit bahkan masih banyak sampai sekarang peninggalan nenek moyang kita dahulu entah itu berupa naska, benda-benda pusaka dan lain sebagainya diterakpan dalam kehidupan sehari-hari misalnya doa-doa atau kandunganlainnya. Namun ada juga beberapa peninggalan yang tidak bisa diperlihatkan kepada orang lain dikarnakan mempunyai cerita mistis yang akan berdampak buruk menurut kepercayaan mereka.
Menarik jika kita menelusuri sejarah kuno, tidak hanya memperluas wawasan namun kita bisa mengambil nilai-nilai yang terkandng didalamnya. Tulisan atau peninggalan zaman dulu ada dua jenis, yang pertama berupa tapesun ( belum ditulis) dan takepan (sudah ditulis).
Selasa, 22 oktober penulis mencari-cari informasi tentang dimana keberadaan penggiat naskah atau yang masih menyimpan naskah kuno atau benda pusaka tersebut. Begitu banyak kendala yang kami temui ketika mencari keberadaan informan dikarnakan hanya bermodalkan alamat yang belum pasti tempatnya. Bertanya dengan berhenti di jalan pun sering penulis lakukan agar bisa sampai di tempat yang ingin penulis tuju. Sampai akhirnya kami sampai ditempat yang kami tuju yaitu di kediaman salah satu informan yang berada di desa Bangket parak kec. Pujut Lombok tengah budayawan sekaligus informan kami yang bernama Mujahidun Nafis, S.Pd menceritakan banyak hal mengenai naskah kuno tersebut. Tidak hanya pak Mujahidun Nafis ayah dari beliau sudah terjun lebih dahulu sebagai penggiat budaya, beliau bernama pak parman. Pada kesempatan kali ini beliau menyampaikan cerita kepada kami yaitu berupa hikayat nur (hikayat nabi).
Gambar tekapan hikayat nur
Tekapan hikayat nur ini berjumlah 38 lembar. Sebelum membacakan tekapan tentang hikayat nur tersebut, bapak memberitau kami bahwa tekapan juga mempunyai petuah yakni pace, pecah, pacek, pacu. Bingung ? ya kami pun bingung namun artimya begitu luar biasa yakni. Pace, mengarah pada apa yang kita lihat untuk dibaca, kemudia pecah, pecahkan makna yang terkandung dari apa yang kita baca. Pacek yakni mengambil makna dari apa yang sudah dipecahkan. Sedangkan pacu menjadikan kita orang yang berakhlaqul qarimah dengan mengamalkan nilai baik dari makna yang kita pecahkan. Patuah ini menjadi pengingan untuk kita bahwa ada yang kita ambil dari naskah yang kita baca. Kemudia informan yang penulis temui menceritakan tentang hikayat nur. Jadi hikayat nur berceritakan tentang perjalanan nabi yang sedang mencukur rambut. Perjalanan yang dimaksud yakni perjalanan isra' mi'raz yang didalam perjalanan itu terdapat patuah-patuah dan ilmu juga doa yang masih di amalkan oleh masyarakat sekitar. Dalam tulisan tekapan itu rambut nabi sama dengan jumlah ayat yang terkandung dalam Al-Qur'an. Selain itu tulisan dalam tekapan ini juga dipercaya bisa menjadi obat, dikarnakan ceritanya ada satu rambut nabi yang hilang ketika dicukur, dan yang menghilang ini disambar oleh 7 bidadari cantik yang kemudin di jadikan jimat. Yang disini di ikatkan di lengan dalam kehidupan nyata rambut itu diganti dengan gelang yang kemudian dicelupkan dalam air sambil dibacakan doa atau mantra yang ada dalam tekapan itu. Banyak doa yang terkandung didalamnya dengan kegunaan yang berbeda-beda. Doa yang terkandung dalam tekapan hikayat nur ini seperti, untuk kekebalan tubuh, menyembuhkan penyakit, memudahkan sakaratul maut, menyuburkan tanaman semua ada namun tetap dengan ijin Allah dengan perantara bacaan dalam naskah kuno yaitu hikayat nur yang diyakini masyarakat sekitar. Sampai detik ini masyarakat sekitar masih menerapkan ilmu atau doa dalam tekapan hikayat nur tersebut. Ditanyai kapan naskah ini ditulis dan siapa yang menulis, informan tidak mengetahui secara pasti dikarnakan ketika menulispun tidak dicantumkan nama penulisnya dan beliau juga menyatakan naskah kuno ini ada saat islam mulai masuk di Nusantara. Selain itu beliau juga mengatakan bahwa beliau juga kini mulai aktif menulis atau menyalin naskah-naskah yang sudah ada sebelumnya. Menarik ketika kita melihat serta mengamati perkembangan budaya melalui naskah kuno. Dari sini kita bisa melihat bahwa naskah kuno atau peninggalan zaman dulu perlu di lestarikan, mengingat penggiat-penggiatnya pun hanya sesepuh-sesepuh yang sudah tua. Oleh sebab itu sebetulnya perlu peranan pemuda sebagai generasi pewaris kekayaan bangsa termasuk budaya. Peninggalan-peninggalan ini pun mulai jarang dijumpai keberadaannya karena mulai hilanga penggiat yang mewarisinya. Oleh karena itu mari kita lestarikan warisan kita, budaya kita.
Terimakasih semoga bermanfaat.
Mantap ayu😍😍 semangat ya👍👍
BalasHapusKeren yu
BalasHapusSemangat berkarya kawan 💕
BalasHapusTerimakasih 🙏
Bagoos Yu Bagoos
BalasHapusNice,,lebih semangat lagi buat poatingan selanjutnya
BalasHapus.
BalasHapusSemoga informasihnya bermanfaat dan bisa diamalkan semuanya. Terimakasih untuk respon positifnya🙏
BalasHapusSemangat ✊
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat. Semangat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusNice yu,ngena banget buat generasi skrg..
BalasHapusSemangat terus utk berkarya 😉
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMasukan saja, kalau nulis satu paragraf itu usahakan maksimal 8 baris,biar pembaca ada waktu untuk narik nafas. Selain itu jga biar tulisannya kelihatan indah. Makazeehh
BalasHapusTerimakasih untuk masukan nya kak
HapusLebih jga bisa,wkwk
BalasHapusPostingan ini menarik, tapi bagi pembaca membosankan untuk membacanya😊🙏
BalasHapusBagus bagus bagus
BalasHapusKembangkan terus ya😁
BalasHapusTerimakasih. Sangat Bermanfaat. Sukses Ya
BalasHapusIndahh sekalii
BalasHapusSemoga next bisa menulis naskah kuno Bima
BalasHapusLuar biasa. Terimaksih sudah share🙏🏻
BalasHapusBagus kak😊
BalasHapusSemangat💪
Luar biasa
BalasHapus👍👌
BalasHapusKerennn
BalasHapusMantap
BalasHapusKeren😍
BalasHapusMantap
BalasHapusMantap jiwa
BalasHapusBagus sekali dan informatif👍
BalasHapusKeren memang anak2 bahasa indonesia ni
BalasHapusSemoga penulis tidak sampai disini menulis artikel. Karena artikel ini cukup bagus dan perlu dikembangkan. Semangattt.
BalasHapus👍
BalasHapusTerima kasih banyak, sangat bermanfaat menambah pengetahuan 👍
BalasHapusKeren yu😊
BalasHapusMantap
BalasHapusWow bagusnya beb
BalasHapusBagus-bagus ceritanya dan bermanfaat
BalasHapusAlhmadulillah, sangat bermanfaat untuk kita semua, dan sangat memberikan pengetahuan tetang naskah-naskah kuno yang ada dilombok ini, semangat, terus berkarya🙂
BalasHapusSemangat kak ayu❣️...ditunggu karya selanjutnya
BalasHapusBagus kak😍😍
BalasHapusBagus sekali
BalasHapus